Cerita SEX ABG Remaja Terbaru - Banyak sekali orang mencari di google dengan KW
Cerita Sex Dewasa
apa lagi kalau Cerita Dewasa yang judulnya HOT banget dan Terbaru pasti
banyak yang mengunjungi. Langsung saja cekicrot ini cerita Dewasa yang
saya maksud.

Rudi
adalah pria awal 25-an berpenghidupan lumayan dengan pekerjaan sebagai
seorang pialang di suatu perusahaan sekuritas sedang. Tidak ada yang
aneh dengan kehidupannya. Semua berjalan lancar. Bila ada
tekanan-tekanan dalam pekerjaan bahkan membuatnya merasa bergairah untuk
menjalaninya. Ini hidup katanya dalam hati. Kehidupan seks-nya juga
demikian, hampir tidak ada masalah. Ia bisa mendapatkan apabila ia
ingin, tentunya dengan proses yang wajar, karena Rudi sangat menghindari
‘sex shopping’ atas alasan-alasan tertentu. “Biar cinta berjalan
semestinya,” yakinnya.
Sore itu market mendekati closing hours. Ia menjauhi mejanya, berjalan
sebentar meregangkan otot. Hari ini ia sangat puas. Pasar sangat
bersahabat dengannya. Sejumlah keuntungan berhasil dibuatnya dalam one
day trade. Sebagian masuk ke dalam rekening pribadinya. “Aku memang
patut mendapatkan,” pikirnya, tidak ada yang merugikan atau dirugikan,
kepuasan seperti ini selalu membuatnya terangsang secara seksual.
Dipandangnya sekitarnya. Ada beberapa wanita rekan kerja yang masih
berkutat. Ia segera memalingkan wajahnya. Perlu beberapa tahapan untuk
mengajak salah seorang dari mereka ke tempat tidur, dan itu menyita
waktu dan emosinya. Lebih baik aku pulang batinnya. Ada sesuatu yang
mengingatkan untuk menunda jam kepulangannya, ia tidak mempedulikan.
Dikemudikan mobilnya keluar dari basement perlahan. Beberapa anak SMU
tampak bergerombol di halte dekat gedung kantornya. “Ahh..” kernyitnya.
Ia terjebak di kemacetan rutin sore hari. Dirinya sudah mengingatkan
agar menunda. “Instingku semakin bagus saja,” senyumnya kecut.
Dilihatnya ke luar jendela mobil. Antrean mobil sepanjang kira-kira
200-an mobil tidak bergerak sama sekali. Dilihatnya ke belakang dengan
putus asa. Keadaan di belakang sama buruknya dengan pemandangan di
depannya.
Rudi menarik nafas dalam-dalam. Digerakkan cermin di atas ke wajahnya.
“Tenang Rud, ini bukan alasan yang bagus untuk merusak 1 hari tenangmu,”
katanya sambil membenarkan letak rambutnya. Tiba-tiba seseorang
berseragam LLAJR mengetuk kaca mobilnya. Dengan segan ditekannya switch
jendelanya. Petugas itu memberitahu kalau terjadi kecelakaan beruntun di
depan dan mungkin lalu lintas baru dapat lancar paling cepat 30 menit.
Dihempaskan tubuhnya ke kursi mobil. “Bagus!” ia menutup wajahnya.
Itulah alasan yang paling tepat untuk merusak moodnya. Dibukanya TV
mobil. Dipilihnya satu film porno kesayangannya di remote. Ditatapnya
adegan-adegan itu dengan hambar. “Huh! Di tengah kemacetan nonton film
porno malah menambah masalah,” sungutnya sambil mematikan. Rudi
menyerah. Dimatikan mesin mobil sembari menatap ke arah kiri.
Tampak di luar gadis-gadis berseragam SMU masih bergerombol menunggu bis
kota. Beberapa di antaranya duduk di trotoar. Diperhatikannya satu
persatu. “Dasar gadis remaja, mereka tidak mempedulikan cara duduknya,”
katanya dalam hati. Tiba-tiba darahnya berdesir. Tungkai-tungkai indah
itu milik gadis yang sangat muda. Diperhatikannya lagi lebih seksama.
Ada yang bertumpu dengan tangannya di belakang sehingga dadanya
membusung ke depan. Wajahnya begitu bersih dan muda. Rambutnya sebahu
dengan leher yang jenjang. Rudi mulai termakan fantasinya sendiri. Ia
memang tidak pernah bercinta dengan gadis belia. Itukah yang
diinginkannya saat ini? “Tidak,” sahutnya sendiri, “Itu terlalu gila.”
sambil menatap ke depan ia tak dapat menahan diri untuk melihat kembali
ke arah kirinya. Diperhatikan dengan seksama lekukan pantat yang padat
itu dengan lutut indah dan kulit yang bersih. Segala gerakan gadis itu
ditangkap matanya dan dialirkan ke otaknya dalam format gerakan erotis.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka tersingkap roknya. Rudi bersorak
dalam hati. Diperhatikannya dengan seksama paha bagian dalamnya.. begitu
kencang, dan perlahan ia mulai ereksi. Kaca film mobilnya membuatnya
sangat aman dalam bereksplorasi. Ia mulai menurunkan reitsleting
celananya. Dibelainya lembut batang kejantanannya tanpa melepaskan
pandangan dari gadis itu. Jantungnya berdetak kencang. Imajinasinya
meluapkan perasaan baru yang sangat dahsyat, bercinta dengan belia.
Butir keringat mengalir ke lehernya. Ditariknya beberapa lembar tissue
apabila ia orgasme nanti.
Tiba-tiba para gadis itu berdiri dan berjalan menjauhi halte karena
beberapa orang berkulit gelap berbadan besar memasuki halte itu. Rudi
meraung keras sekali. “Arrgh!” Ditatapnya para lelaki itu. Mereka
menyerupai segerombolan kera besar daripada manusia. Dilemparnya box
tissue ke belakang. Ia percaya bahwa saat itu kecepatan batang
kejantanannya menyusut lebih cepat dari cahaya. Dengan mengumpat ia
merapatkan reitsleting celananya kembali.
Langit semakin gelap. Rupanya awan berkumpul membentuk sebuah awan gelap
besar. Kilat dan guntur bersahutan, diakhiri oleh curahan air yang
berirama semakin cepat dan lebat. Di dalam mobil Rudi tampak
melambai-lambaikan tissue putih di atas kepalanya, tanda menyerah kepada
nasib buruknya. Para gerombolan kera itu bergerak melewati depan
mobilnya menyeberang ke seberang jalan. Salah seorang dari mereka
memukul kap mobilnya. Rudi membalas dengan mengacungkan jari tengahnya.
Ia merasa aman. Toh mereka takkan melihatnya.
Dinyalakannya mesin mobilnya karena kaca mulai mengembun. Dinyalakan
stereo mobilnya sambil memandang ke kiri. Rudi hampir memekik girang.
Salah seorang dari gadis SMU itu ada di sana dalam keadaan basah kuyup.
Rudi memutar kepalanya untuk mencari yang lain. Ah, tampaknya ia
sendirian, sesal Rudi. Tapi tunggu.. dalam keadaan basah semua lekuk
tubuh gadis itu menjadi tercetak jelas. Rambutnya yang basah, pakaian
putihnya melilit erat tubuhnya yang sintal, payudaranya menggelembung
indah dengan pantat yang bundar, Rudi kembali ereksi. Bibirnya bergetar
menahan nafsu birahinya yang melintas menabraknya berulang-ulang.
Matanya terasa panas. Dibukanya pintu mobilnya kemudian ia berlari
mendekati gadis itu. Sengaja ia berdiri di belakangnya supaya leluasa
menatap tubuh gadis itu. Betapa belianya gadis ini, tubuh yang belum
pernah tersentuh oleh lelaki. Payudaranya sangat penuh menyesaki branya
sekitar 34. Pinggul yang ramping dengan pantat bundar yang berisi
ditopang oleh lutut dan tungkai yang indah dan bersih.
Gadis itu memutar tubuhnya dan berhadapan dengannya yang sedang menjadi
Juri festival foto bugil. Rudi tergagap dan secara refleks menyapanya.
Gadis itu tersenyum sambil memeluk tasnya menutupi seragamnya yang
transparan. Dengan berdalih bosan di mobilnya, Rudi mendapatkan banyak
alasan dan obrolan ringan di halte itu. Gadis itu bernama Dina, kelas
satu SMU swasta berumur 16 tahun. Rudi tak menghiraukan secara detail
percakapannya karena suara Dina terdengar sangat merangsangnya.
“Kita ngobrol di mobil yuk, capek berdiri nih,” kata Rudi.
Dina menatap ragu. Rudi menangkap maksud pandangan itu.
“Ok, begini.. Kamu nggak perlu takut. Ini dompet saya. Ini kunci mobil.
Di dalamnya ada semua kartu identitas saya. Kalo saya berniat jahat
dengan kamu, kamu boleh buang kunci ini dan bawa dompet saya ke polisi,
ok?” Dina tersenyum riang menerima dompet itu, lalu mereka bersama-sama
memasuki mobil.
Di dalam mobil Dina merasa gugup. Baru kali ini ia manuruti orang asing,
laki-laki lagi. Sekilas teringat pesan ibunya untuk menjaga diri, dan
bayangan pacarnya yang tidak menjemputnya. Dina menjadi kesal. Dina
membuka dompet itu, terdapat beberapa credit card dan kartu identitas.
Diambilnya KTP lalu diselipkan di saku bajunya. “Ini cukup,” ujarnya.
Dengan tersenyum acuh Rudi menerima dompetnya kembali sambil menyalakan
stereo setnya. “Kamu kedinginan? saya punya kemeja bersih. Kamu bisa
ganti baju di belakang. Saya janji tidak akan menegok ke belakang,”
tanya Rudi penuh harap. Dina menggelengkan kepalanya.
Obrolan sore itu menjadi lancar didukung suasana gelap mendung dan
derasnya hujan. Bahkan Dina pun mulai berani menceritakan dirinya. Mata
Rudi mencuri pandang untuk menatap paha Dina yang tersingkap. Rudi
menceritakan dirinya, pacarnya dan secara halus iapun menceritakan
pengalaman seksualnya, bagaimana ia melakukan foreplay. Ia ceritakan
dengan lancar dan halus hingga Dina tidak tersinggung. Rudi menangkap
beberapa kali Dina menarik nafas panjang, sepertinya Dina terangsang
mendengar cerita Rudi. Wajahnya mulai memerah, jemarinya memilin ujung
tali tasnya. “Tampaknya ini tak cukup,” kata Rudi. Lalu ia menawarkan
Dina untuk menonton VCD kartun kesayangannya. Dina berseru gembira. Lalu
Rudi membuka TVcar-nya dan berkata, “Kamu tunggu di sini. Kunci
pintunya. Saya mau keluar beli permen di sebelah halte itu.” Dina
mengangguk pelan dan matanya menatap layar TV kecil penuh harap.
Rudi keluar mobil sambil membawa remote lalu menyalakan VCD changer dari
luar mobil dengan film yang sama ia tonton sebelum hujan tadi. Ia
berlari ke pedagang asongan pinggir jalan dan melirik jamnya.. 5 menit
dari sekarang! sambil membicarakan cuaca ke pedagang asongan itu. Dina
menatap adegan di mini TV itu. Lelaki sedang menjilati seluruh tubuh
wanita pasangannya. Jantungnya berdegub. Ia memejamkan mata, tetapi
suara lenguhan dan desisan membuatnya kembali ke layar. Dilihatnya
keluar. Ia tak bisa menemukan Rudi dari dalam mobil itu. Kembali ke
layar, tertegun ia melihat lelaki itu menjilati puting susu. Tangannya
menjadi dingin. Lelaki itu sekarang menjilati paha. Dina menyilangkan
kaki kirinya di atas kaki kanannya. Lalu lelaki dalam film itu mulai
menjilati liang kewanitaan wanita itu. Dina merasa seluruh tubuhnya
gemetar, nafasnya terengah-engah. Iapun heran mengapa nafasnya begitu.
“Sorry rada lama, nggak ada kembalian. Terpaksa saya nunggu pedagangnya
tukar uang,” sembur Rudi. Dina tersentak dan memalingkan wajahnya. Rudi
pura-pura terkejut sambil cepat-cepat mematikan stereonya dan menutup
layarnya. “Aduh, maaf.. kenapa bisa ini.. maaf Din,” kata Rudi tergagap.
Lalu ia membuka CD changer dan mengambil piringan porno itu lalu
mematahkan menjadi dua dan membuangnya ke luar mobil. Dina sangat
terkejut melihat itu lalu berkata, “Udah deh Rud nggak pa-pa.. sorry
juga aku nggak bisa matiinnya,” katanya sambil memegang lengan Rudi.
Rudi menoleh pelan sambil menatap mata Dina. “Sorry?” Dina menyahut
pelan. “Nggak pa-pa,” nafasnya masih terengah-engah. Inilah saatnya,
batin Rudi. Now or never.
Dipegangnya lengan Dina. Ditariknya mendekat, disingkirkan tas di
hadapannya. Melihat seragam putih yang masih basah dengan bra membayang
itu Rudi kehilangan kontrol. Bibirnya langsung mengecup bibir Dina. Dina
tersentak ke belakang kaget. Rudi memburunya. Dikulumnya bibir bawah
Dina yang masih terengah-engah itu, sambil menurunkan posisi kursi
mobilnya sehingga Dina tampak seperti berbaring. Dilepasnya bibir,
dilanjutkan ke telinga. Lidahnya menggelitik belakang telinga Dina
sambil sesekali menyeruak masuk ke lubang telinganya. Bau harum rambut
Dina memancarkan bau alami gadis belia tanpa parfum, mengundang Rudi
untuk berbuat lebih jauh. Dibukanya kancing seragam sekolah Dina sambil
mengulum mulut Dina. Dina menggelengkan kepalanya perlahan. Rudi
mengangkat kepala sejenak melihat gundukan daging padat dan kenyal
terbungkus bra berkain lembut. Betapa muda dan tak berdosanya. Biarkan
aku menikmati tubuh beliamu, merasakan dengan seluruh indraku untuk
membuatmu menjadi ternoda. Aku ingin menyetubuhimu, menghinakan tubuh
sucimu, karena aku pantas mendapatkan tubuhmu, hati Rudi berteriak.
Dibukanya bra itu lalu dengan rakus dijilat puting kiri Dina sambil
meremas payudara kanannya. Dikulumnya semua daging payudaranya, seakan
hendak ditelannya. Dina mengerang. Kakinya menjejak-jejak lantai mobil.
Lalu Rudi memindahkan tubuhnya ke atas Dina. Dengan kasar dipegangnya
celana dalam Dina. Dina tak sanggup berkata dan bergerak, semuanya
begitu ketakutan.
Keingintahuan dan kenikmatan berbaur, muncul silih berganti menggempur
hati, otak dan nalurinya. Saat ia merasa takut dengan perbuatan Rudi,
sedetik kemudian ia merasa jiwanya melayang, sedetik kemudian otaknya
memerintahkan tubuhnya agar bersiap menunggu kejutan berikutnya begitu
berulang-ulang. Dina meneriakkan kata jangan sewaktu Rudi dengan kasar
melepas celana dalamnya, lalu ia didudukkan di atas kursi mobil bagian
atas. Rudi berpindah tempat dengan cepat ke bawah tubuhnya dan mulut
Rudi mulai menjilati liang kewanitaannya seperti hewan yang kehausan.
Dicengkeramnya pegangan pintu, kakinya diangkat oleh Rudi ke atas. Dina
tak tahu apa yang dilakukan Rudi, tapi ia merasa ada sesuatu di dalam
dirinya. Perasaan yang aneh, dimulai dari jantungnya yang berdetak lebih
keras lebih cepat menjalar ke pinggulnya, sementara denyutan liang
kewanitaannya membentuk impuls yang semakin kuat, semakin cepat, kakinya
mengejang, pandangannya mengabur, jiwanya serasa terhempas
keatas-bawah. Namun tiba-tiba semua itu berkurang. Dibukanya matanya.
Tampak Rudi sedang mengamatinya dengan matanya yang menyala oleh birahi.
Rudi mengambil nafas sejenak. Ditatapnya liang kewanitaan Dina dengan
rambut kemaluan yang tumbuh tak beraturan. Kemudian dilanjutkannya lagi
jilatan sekitar klitoris Dina. Begitu muda, ditatapnya sebentar, liang
kewanitaan belia sekarang milikku. Aku menjilatinya, aku menghisapnya.
Sekarang aku bahkan menggigitnya. Liang kewanitaan ini milikku, akan
kunodai sesukaku, dengan caraku, dengan nafsuku. Akan kubuat tubuh suci
ini ternoda oleh tubuhku, oleh nafsuku. Akan kutaburi tubuhnya dengan
spermaku. Akan kuberi cairanku yang akan menyatu dengan dirinya sehingga
ia akan selalu terkotori oleh nodaku. Rudi semakin liar dan segera
menghentikan tindakannya ketika Dina mulai mengejang. Dibukanya cepat
celananya, digosokkan batang kejantanannya ke permukaan liang kewanitaan
Dina. Dengan mudah dimasukkannya batang kejantanannya perlahan-lahan
senti demi senti, sambil mengulum dan meremas payudara kenyal Dina. Lalu
dibenamkan semua batang kejantanannya. Betapa hangat, betapa nikmat.
Lalu mulai digerakkan maju-mundur, semakin lama semakin cepat. Rudi
mendengar suara Dina hanya, “Ssh.. sh..” terputus-putus. Lalu
diangkatnya pinggul Dina. Dipercepat gerakan pinggulnya sendiri sampai
tubuh Dina melengkung kaku. Kini saatnya.. Rudi mengeluarkan spermanya
sambil menekan dalam-dalam.
Lima belas menit setelah itu.. Dina menggigit ujung seragamnya yang
lusuh, sementara Rudi merapikan rambutnya. Oh puas, dan aku sekarang
benci sekali dengan gadis ini, gadis belia yang ternoda. Diambil KTP
dari saku Dina lalu sambil diselipkan ke dompet ia mengeluarkan 3 lembar
seratus ribu rupiah sambil mencium pipi Dina. “Ini buat kamu.” Dina
menolak sambil terkaget- kaget. “Aku bukan gadis bayaran Rud..” katanya
sambil mulai menangis. “Aku sayang kamu Rudii..” sambil terisak-isak.
“Tapi aku tidak sayang kamu,” kata Rudi sambil meletakkan uang itu di
dalam tas Dina, lalu Rudi keluar. Dalam guyuran hujan ia membuka pintu
mobil, lalu menarik Dina keluar. “Lalu lintas akan lancar. Aku harus
pulang, kamu juga. Kita pisah di sini. Eh Din.. thanks ya?!” Dina
berteriak histeris sambil lari keluar. Rudi kembali ke mobilnya mengunci
pintu dan tersenyum melihat mobil di depannya bergerak ke depan.