Cerita Sex - X - seperti biasa akan menyediakan Cerita Sex Dewasa Terbaru 2013 yang berjudul "Cerita Sex Dengan Teman Sekelasku Yang Cantik Dan Menggairahkan"
Saat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta
di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita
pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang
membosankan karena belum kenal teman-teman. Tetapi, dengan jarak satu
baris, ada mahasiswi duduk tiba-tiba, dia terlambat sekitar 10 menit.
Kemudian agak kulirik hati-hati bagaimana rupanya. Memang sih tidak
terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak
ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi
pikiran-pikiran kotor. Bajunya abu-abu dengan lengan biru dan agak
ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A
ukurannya.
Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu.
Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (yang
kenal dengan cewek itu), tiba-tiba dia menghampiri kumpulanku dan
teman-temanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan yang
bertanya untuk berkenalan.
"Eh, elo namanya siapa..?" katanya.
Dalam hatiku, "Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!"
Lalu kubilang, "Eldi."
Dia juga ngejawab, "Diya Hartiyan, panggil aja Yayan."
Akhirnya kami berkenalan juga.
Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada
pikiran-pikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh
dengan Yayan. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku
mulai tegang. Malah, kadang-kadang kalau sedang duduk di belakangnya,
Yayan seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan
menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya yang sexy,
yang mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku yang sudah
meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan
wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau
di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku
sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.
Yang membuatku bertambah nafsu, Yayan gampang sekali dirangkul atau
dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya,
apalagi Yayan malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat
ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata
kaki. Begitu kulihat Yayan, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan
tambahan belahan roknya yang hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia
duduk, kulihat pahanya yang ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya,
melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali
terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.
Lalu, inilah saat-saat yang mengejutkan. Setelah midtest semester dua,
salah seorang temanku ingin main ke rumahku yang juga mengajak beberapa
teman-teman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah.
Bagian yang paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Yayan
ikut juga ke rumahku. Hari itu Yayan memakai kemeja yang agak
memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan
berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Yayan ingin ke kamar mandi.
Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya
tidak jalan), kuantarkan Yayan ke kamar mandi bawah (sementara
teman-teman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba
menstabilkan nafas yang memburu melambangkan orang penasaran.
Sejenak aku berpikir, "Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?"
Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku pura-pura menjelaskan bagian-bagian kamar mandiku kepada Yayan.
"Yan, ini showernya, ati-ati lho nyemprotnya kencang, trus WC-nya.. udah bisa kan..?"
Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.
"Emm.. Yan..!" aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.
Yayan menjawab, "Apaan sih..? Ada apa..?"
"Ehmm.. Gue.. boleh..," Yayan langsung memotong, "Apaan sih..! Boleh apaan..?"
"Gue boleh cium elo, nggak..?"
Batinku berkata, "Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!"
Yayan agak tertegun, "Hah..! Ee.. emm.."
Entah adrenalin dari mana yang datang, tiba-tiba kupegang pinggang
kanannya sambil menarik Yayan ke pelukanku. Yayan terlihat tidak
berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir
seksinya itu.
Awalnya bibir Yayan hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun
setelah agak lama, Yayan mulai memejamkan matanya dan langsung
melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah
jilatan di ujung bibirku. Sesekali Yayan juga mengulum lidahku dan agak
digigit.
Aku mendengar desahan Yayan, "Ehmm.. eehh.. mm.." mungkin karena menikmati kulumannya.
Lalu Yayan yang mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka
bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas,
Yayan melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun
menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli yang kurasakan, tetapi
justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi
melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya yang bulat sexy.
Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BH-nya. Kulempar BH-nya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Yayan.
"Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..!" Yayan terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.
Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Yayan kubasahi
dengan ludah dan kujilati kembali. Yayan juga sesekali menjambak
rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting
payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku
menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku yang sudah
berdiri tegang dan agak berurat. Yayan tidak mulai memasukkan batang
kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan.
Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Yayan, aku
merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan
selangkangan.
"Eghh.. Yan.. ehhgghh..!" aku juga mendesah karena enaknya hisapan Yayan.
Sesekali Yayan juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati
pinggirnya. Akhirnya, kuajak Yayan untuk melakukan persenggamaan.
"Ehh.. Yan.. gue masukkin yahh.. hh..!" sambil nafasku naik-turun.
Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, "Eughh.. ehh.." Yayan
langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Yayan
duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.
Wajahnya menghadap ke arahku. Yayan sendiri yang mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.
"Esshhghh.. emmhh..!" Yayan mendesah namun seperti tertahan.
Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran
denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan
persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Yayan menusukkan batang
kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang
kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya
tertekan.
Batinku berkata, "Yess.. Yayan masih perawan."
Yayan mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.
Kugoyangkan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Yayan
sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Goyangan Yayan
semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga
badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku
sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku.
Karena aku takut tutup WC-nya jebol, kuangkat Yayan dengan batang
kejantananku masih menancap, dan kutiduri Yayan di lantai. Untung
lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya,
kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Goyanganku kini maju mundur.
"Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..!" Yayan kembali mendesah sambil memanggil namaku.
Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya
senafsu-nafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar
mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman
pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti
sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Yayan ejakulasi duluan. Di sekujur
batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku
masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera
mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang
kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.
Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Yayan, kukocok sedikit lagi
dengan telapak kananku yang sebagian dipenuhi oleh air mani Yayan.
Kemudian ketika mau keluar, Yayan ikut memegangi batang kemaluanku.
"Crot.. crot..!" Spermaku membanjiri wajahnya.
Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya,
hidung, alis dan ada yang memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisa-sisa
spermaku ditelan habis oleh Yayan.
"Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..!" Yayan mencoba berbicara
sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari
lelehan cairan panas itu.
"Ghhahh.. ahh.. Yan.. capek nih gue..! Kuat juga elo..!" aku mencoba bercanda.
Yayan membalas, "Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!"
Akhirnya Yayan membersihkan bekas sperma yang membasahi sekitar wajahnya
dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Yayan untuk bilang kalau
kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar yang lainnya
tidak pada curiga, dan Yayan menjawab setuju dengan ciuman.
Setelah melakukan persetubuhan itu, Yayan ke atas duluan, pura-pura
tidak ada apa-apa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon.
TAMAT