Cerita Sex - X - Seperti biasa akan menayang kan cerita sex dewasa yang tidak kalah hebat dengan cerita sex dewasa sebelum nya. kali ini blog saya membahas cerita sex dewasa terbaru 2013 tentang seorang sepasang teman kos. yang doyan ML dikampus.berikut cerita nya saya sajikan buat pengunjung setia blog saya,,
Aku sudah dua bulan putus dengan pacarku,
selama itu pulalah aku tidak dijamah pria. Malam mimggu ini aku sendiri
lagi. Kuputuskan untuk main ke sekretariat Mapala di kampusku yang
biasanya ada yang menunggu 24 jam. Aku bukan anggota, tapi kenal
beberapa orang. Disana sepi, hanya ada Mas Putra yang tengah asyik
nonton TV. Setelah saling menyapa, kami menonton sambil mengobrol.
“Kok nggak ngapelin Mbak Rosa, Mas..?” tanyaku.
“Nggak, lagi boring ketemu dia terus.”
“Lo kok..? Kan pacar..?”
“Iya sih, tapi lagi pengen ganti suasana aja.”
“Dia nggak marah nih, nggak ngapel..?”
“Nggak, kita lagi berantem kok!”
“Napa..?”
“Rahasia dong.”
“Paling urusan sex.” kataku asal tebak.
“Lo, kok tau..?” tanyanya heran.
“Tau dong..,” jawabku, padahal aku hanya iseng saja asal tebak.
Jangan heran, kalau mengobrol soal sex dengan anak-anak Mapala ini sudah biasa, pada ‘bocor’ dan ‘kocak’ semua.
“Emang napa sih, dia nggak bisa muasin yah..?” tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
Mas Putra melotot. “Nggak juga, dia malah nggak bisa ngapa-ngapain,
kalo dicium diem aja, kalo udah mo ngebuka bajunya, dia langsung
berontak.” kulihat sorot mata kesal.
“O, gitu..”
“Lagian, payudaranya kecil banget..!” katanya.
Aku tertawa lagi. “Impas kan, punya Mas juga kecil,”
“Enak aja, mau liat..?!” tantangnya.
Aku tertawa, walaupun ingin juga. Sebenarnya aku naksir tubuhnya saja,
atletis, kulit coklat, dada bidang. Dia paling suka panjat tebing, dan
aku sudah pernah melihat dia mandi di pantai. Cool.
“Boleh..,” tantangku balik.
“Oke, tapi kamu juga tunjukin payudara kamu, gimana..? Kan impas.”
Aku terdiam sejenak. Tapi aku berpikir, why not, tidak ada ruginya.
“Oke,” jawabku, “Mas duluan ok..!”
Dia menatapku tajam sambil berlutut, membuka reslueting celana
jeans-nya pelan hingga terlihat CD yang membalut penisnya yang sudah
menegang.
“Sekarang kamu..!” perintahnya.
“Lo kok..?” kataku bingung.
“Satu persatu, biar fair..,”
“Oke.”
Aku membuka sweater cardiganku yang melapisi tank top yang kupakai.
Tanpa kata-kata dia menurunkan jeans-nya sebatas lutut. Aku membalas
dengan menaikkan tank top-ku sebatas leher hingga memperlihatkan
payudaraku yang dibalut bra. Mas Putra tidak langsung membuka CD-nya,
tapi malah mengelus-elus penisnya yang menegang. Aku benar-benar
terangsang dan membalas mengelus-elus payudaraku. Pelan dia menurunkan
CD-nya, memperlihatkan kepala penisnya yang coklat, kemudian batangnya
yang lumayan besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku tidak kuasa menahan
dengusan nafasku, begitu juga dengan Mas Putra. Aku menaikkan bra-ku
pelan yang memperlihatkan payudaraku berputing merah dan kenyal.
Sejenak kami berpandangan, masing-masing tangan memegang payudara dan
penis. Tanpa dikomando, Mas Putra perlahan mendekat, aku diam saja.
Kepalanya dicondongkan ke arah payudaraku. Tangannya memegang bahuku
pelan. Kemudian dia mengecup payudaraku pelan, mengulum. Aku
menggelinjang pelan. Tanganku meremas kepalanya. Tangan dan bibirnya
makin binal, mengecup dan mengulum payudaraku, meremas sebelahnya.
Mendadak aku sadar kalau ini di sekretariat, banyak orang bisa
berdatangan kapan saja. Aku melepaskan cumbuannya, dia memandangku.
“Jangan disini..!” bisikku. Dia mengerti.
“Kamu naik ke lantai 5 perpustakaan, nanti aku menyusul..” perintahnya.
Aku membenahi baju dan beranjak menuju perpustakaan yang tidak jauh
dari situ. Di atas aku menunggu 5 menit sampai Mas Putra menyusul dengan
membawa sleeping bag 3 buah. Hmm, mungkin biar empuk, pikirku. Dia
langsung menggelar sleeping bag jadi tumpuk 3. Aku tetap berdiri sampai
dia mendekat. Kami berangkulan pelan. Saling mengulum bibir. Tangan
saling menggerayangi. Kutatap matanya tajam sambil tanganku membuka
kancing kemejanya satu persatu.
Kuelus dadanya yang bidang
sambil membuka kemeja lepas dari tubuhnya. Kuciumi dadanya, putingnya
kukulum pelan, dia menggelinjang, mendesah. Kuciumi leher dan beralih ke
bibirnya. Kemudian gantian dia yang menarik tank top-ku lepas dari
tubuhku, dielusnya payudaraku yang dibalut bra sebelum meraih pengaitnya
di belakang. Begitu terlepas, dia langsung mencumbu payudaraku,
tangannya yang satu meremas payudaraku yang sebelah, yang satu lagi
merogoh celana jeans yang kupakai, membuka kancing dan reslueting,
kemudian mengelus-elus vaginaku yang dibalut CD. Aku mendesah pelan.
Cumbuannya makin turun, tangannya kemudian membuka jeans-ku, aku
membantu dengan menaikkan kaki. Sambil berdiri, dia mencoba membuka
celananya sendiri, aku langsung beranjak mundur dan memandang Mas Putra
membuka jeans-nya. Mata kami saling bertatapan. Aku melihat dia membuka
jeans-nya, menunduk, dan waktu berdiri aku benar-benar kagum dengan
kejantanan tubuhnya yang macho.
Kami saling berangkulan lagi.
Kali ini dia mengangkat tubuhku sambil menciumi bibirku. Aku memeluk
bahunya. Direbahkannya tubuhku di sleeping bag yang digelar. Kemudian
dia merangkulku pelan, saling berpagutan. Dia mencumbu leherku, terus
turun ke payudara, meninggalkan cupangan disana. Tangannya aktif di
vaginaku, kali ini tidak lagi di luar CD tapi sudah berada di dalam. Aku
benar-benar menikmati elusannya. Klirotisku dimainkan dengan lembut,
payudaraku dikulum pelan. Akhirnya dia menarik CD-ku, aku membantu
dengan mengangkat pantat.
Pelan dia memainkan lidahnya di
vaginaku, menjilat, mengulum, aku mendesah tidak karuan. Dia memelukku
dan menarik tubuhku. Kami duduk berhadapan, kaki saling menyilang,
saling memeluk, mengulum bibir, meremas payudara. Aku meraih penisnya
dan mengelus-elus pelan, sambil dia mencumbu leher dan bibirku.
Kutidurkan badannya, dan aku di atas. Kubuka CD-nya sedikit hingga
penisnya kelihatan, aku mengarahkan vaginaku dan menggesek-gesekkannya
disana, tanpa penetrasi, payudaraku diraihnya dan diremas-remas.
Aku duduk di atas pahanya, mengarahkan vaginaku di penisnya, kuraih
penisnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di vaginaku, memainkan
klirotisku dengan penisnya. Aku takut untuk penetrasi karena masih
perawan. Dengan begini saja aku sudah menikmati. Kupeluk tubuhnya dan
terus menggesekkan vaginaku di penisnya. Kuciumi leher terus turun ke
dada, pantatku terus bergoyang, sampai aku merasa tubuhku menegang dan
akan mencapai klimaks. Mas Putra meraih payudaraku dan mendekapku sambil
membalas goyanganku, aku menjerit tertahan waktu klimaks. Kupeluk Mas
Putra dengan tubuh berkeringat dan lemas.
Dia bangun dan
mendekapku sambil merebahkan tubuhku lagi. Pelan dia membuka CD-nya,
kulihat penisya coklat menegang hebat. Dia memelukku pelan sambil
mencumbu dan meremas. Tapi aku mencoba bangun dan menolak cumbuan MAs
Putra. Dia mengalah, aku segera memunguti pakaianku dan memakainya
segera. Aku memang egois. Tanpa basa basi aku langsung turun dan pulang
ke kost.
Besoknya dia mengajakku jalan, kami pergi naik motor.
Tanpa tujuan yang jelas, habis makan di KFC, Mas Putra mengarahkan
motornya keluar kota, ke arah jalan Kaliurang, masuk ke daerah pakem
yang lumayan jauh dari Yogya, aku baru kali ini ke daerah ini. Daerah
ini lumayan dingin karena daerah dataran tinggi lereng merapi. Aku tidak
membawa jaket. Karena kedinginan, aku memeluk Mas Putra agar
mendapatkan kehangatan. Kurasakan payudaraku menempel di punggungnya.
Magrib kami sampai di kawasan wisata Mbebeng. Indah sekali dapat
melihat siluet merapi dari sini, walaupun dingin menggigit. Sepi..,
hanya ada kami berdua di bibir jurang. Tanpa segan aku memeluk Mas Putra
untuk mencari kehangatan. Dia membalas merangkulku. Kemudian kami naik
agak ke atas, tempat panggung yang sudah rusak karena tidak terawat
sambil berangkulan. Pelan-pelan Mas Putra mulai mencium ubun-ubunku. Aku
mendongak, dia langsung menyambar bibirku.
Hari sudah gelap,
sehingga aman melakukannya di alam terbuka begini. Kami berciuman dengan
panas, tangannya berkeliaran di payudaraku. Tanganku memeluk
punggungnya. Begitu tiba di belakang panggung, Mas Putra memepetkan
tubuhku di dinding dan mencumbuku habis-habisan, sepertinya dia ingin
membalas perlakuanku kemarin. Baju kaosku direnggut dari kepala, begitu
juga dengan bra. Pelan dicumbunya leher, turun ke payudara dan menaikkan
rok yang kupakai. Tangannya meraba-raba vaginaku yang mulai basah.
Tanpa komando, dia membuka sendiri kemejanya di depanku pelan-pelan,
seolah mau merangsangku.
Dengan menatap mataku, dia melepas
satu persatu kancing kemejanya sambil mengelus sendiri puting susunya.
Perlahan tangannya turun ke pusar, terus membuka reslueting jeans pelan,
merogoh ke dalam CD tanpa mengeluarkan penis. Jujur, aku benar-benar
terangsang. Tapi aku masih ingin menikmati permainannya. Pelan dia
menurunkan jeans-nya, tinggal CD yang menempel dengan siluet penis
menyamping. Perlahan dia mendekat dan mencumbuku lagi, kali ini santai
tidak menggebu-gebu lagi seperti tadi.
Aku menikmati setiap
sentuhan, dan aku mengerang tanpa malu-malu. CD-ku dilepaskannya dengan
mulut tanpa membuka rok yang hanya dinaikkan. Dia membuka CD-nya juga,
penisnya tegak menjulang merangsang. Kembali kami saling berangkulan.
Terasa denyutan penisnya di perutku. Perlahan dia menaikkan tubuhku ke
atas batu, dan membuat tubuh kami sejajar. Terasa penisnya kini menempel
di vaginaku sekarang. Hangat. Kali ini aku pasrah kalau dia mau
penetrasi. Penisnya hanya digesek-gesekkan di vaginaku sambil mengulum
bibirku.
Kemudian dia meraba vaginaku yang sudah basah.
Ditatapnya mataku sambil memegang bahu. Kami saling bertatapan lama.
Perlahan tangannya mengarahkan penis ke vagianku. Aku memeluk
punggungnya sambil terus bertatapan. Kubantu penisnya mencari lubang
vaginaku, dia memeluk bahuku, mencium pelan bibirku, dan begitu merasa
sudah pas, dia menekan pelan penisnya ke vaginaku. Pelan kepala penisnya
terasa menyeruak masuk, aku meremas punggungnya. Terasa nyeri.
Dia menghentikan gerakannya sejenak. Mencumbu bibirku lagi, mengelus
punggung dan mencium kupingku. Aku agak tenang, kemudian pelan dia
kembali menekan penisnya lebih dalam, aku menggigit bibir, dia menatapku
waktu memasukkan lagi penisnya pelan-pelan. Aku mendongak dan menjerit
tertahan. Dia berhenti setelah semua penisnya masuk dan mencumbu leherku
yang mendongak, aku masih merasa nyeri. Mas Putra mendiamkan penisnya
di vaginaku, sementara kami mulai bercumbu lagi.
Setelah aku
tenang lagi, pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya. Pelan-pelan
penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku mulai menerima rasa sensasi yang
belum pernah kurasakan sebelumnya. Gerakan pelan mulai berubah menjadi
gerakan liar, kocokan penisnya di vaginaku semakin kencang, aku semakin
bergairah, mengerang, menggigit. Kakiku yang kanan mengait di pinggang
Mas Putra dibantu tangannya, sementara tanganku memeluk punggungya.
Waktu aku mau klimaks, aku menghentikan goyangan, dan Mas Putra
mengerti dan menghentikan kocokannya juga. Kami bercumbu sebentar,
menenangkan diri dengan penis tetap menancap di vagina. Aku menawarkan
untuk ganti posisi dan Mas Putra menyetujui. Kami sepakat mencoba doggie
style. Aku langsung menungging di atas rumput, dan Mas Putra berlutut
segera memasukkan penisnya dan mulai mengocok, terasa sensai yang lain
lagi. Aku mengerang bebas dan Mas Putra merangkulku dari belakang
meremas payudara sambil terus mengocok.
Agak lama aku klimaks,
malah gantian Mas Putra yang mau klimaks, tubuhnya menegang dan meracau.
Aktifitas langsung berhenti. Kali ini aku aktif mencumbunya, kami duduk
berhadapan, kakinya menjulur lurus, aku duduk di atasnya memasukkan
vagina ke penis, mengoyang-goyang pelan, akhirnya di merebahkan dirinya
di atas rumput. Aku makin leluasa mengocok penisnya di vaginaku. Terasa
penetrasi lebih dalam dan dinding vaginaku terasa geli dan nikmat.
Sebelum klimaks, lagi-lagi kami ganti posisi, Mas Putra gantian
menindihku dengan gaya konvensional. Kocokannya benar-benar bernafsu dan
cepat, aku menggelinjang geli dan membalas setiap gerakan Mas Putra.
Kami saling mengerang, menjerit tertahan dengan nafas mendengus sampai
tubuhku menegang akan mencapai klimaks. Mas Putra tidak perduli, terus
mengocok penisnya, aku menjerit pelan begitu klimaks, memeluk Mas Putra
lemas yang terus menggenjot sampai dia pun klimaks. Kami saling
berangkulan di atas rumput, tersenyum dengan peluh membanjiri tubuh.
Setelah berpakaian kami segera pulang.